Suatu hari di perpustakaan Ayah, di sela pengajian kitab Jalau al-Khatir gubahan Syekh Abdul Qadir, Ayah berkisah tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz (682-720 M). Khalifah Dinasti Umayyahyang dari garis ibunyaadalah cicit Sayyidina Umar bin Khattab ini dijuluki sebagai ‘khalifah kelima’ bukan karena urutannya, tetapi karena karakter kepemimpinanya.

Dalam suatu riwayat, dikisahkan bahwa pada satu malam, seorang gubernur menghadap Umar untuk melaporkan urusan kaum muslimin. Begitu urusan dinas selesai, sang gubernur bertanya santai, "Bagaimana kabar Anda sendiri, Amirul Mukminin?"

Umar tidak langsung menjawab. "Tunggu sebentar," ucapnya. Umar berdiri, memadamkan lilin besar di meja, lalu menyalakan sebatang lilin lain berukuran kecil.

Sang gubernur heran, “Mengapa kau lakukan itu, Amirul Mukminin?”

"Lilin pertama tadi milik Baitul Mal, dinyalakan dengan minyak dari harta umat saat kita mengurus perkara mereka. Karena urusan itu sudah selesai, aku tidak berhak lagi menggunakannya. Kini engkau bertanya tentang kabar pribadiku, dan tidak selayaknya aku menjawabmu di bawah cahaya lilin milik rakyat. Kabarku baik, walhamdulillah."

Kisah tersebut selalu saja berhasil menggelisahkan diri saya: jika seorang pemimpin abad kedelapan sanggup membangun kesadaran akuntabilitas sekuat itu—bukan karena aturan tertulis, tapi karena internalisasi nilai. Mengapa kita, bahkan dengan semua teknologi dan sistem yang kita miliki, masih sering gagal menjaga amanah pengelolaan aset yang sama?

Jarak Kesadaran Spiritual

Tentu saja, ada jarak membentang panjang antara lilin yang dimatikan Umar dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita normalkan hari ini. Bukan hanya tentang jarak waktu, tetapi juga jarak kesadaran spiritual.

Kita hidup di tengah lembaga-lembaga filantropi yang lahir dari impuls terbaik; kepedulian, solidaritas, dan keyakinan bahwa harta tidak boleh berhenti di tangan yang mampu. Niat itu nyata dan luar biasa baik. Tetapi yang perlu diragukan adalah: apakah ada sistem di baliknya?

Yang sering terjadi adalah energi kolektif kita kerap terkuras habis pada panggung kampanye penghimpunan, sementara sisi pengelolaan pasca-penghimpunan dibiarkan berjalan dengan infrastruktur seadanya. Data penerima manfaat tidak terstandarisasi. Pergerakan aset tidak terlacak secara real-time. Laporan disusun, tetapi tidak didesain untuk bisa ditelusuri hingga ke unit terkecil. Akibatnya, ketika kebutuhan mendesak datang, yang kita hadapi bukan lagi tentang krisis logistik, tetapi juga krisis kepercayaan.

Sejarah Tertib Administrasi dalam Islam

Padahal, cetak biru untuk mengatasi kelalaian manajemen ini telah diletakkan sejak awal sejarah Islam. Umar bin Khattab, jauh sebelum cicitnya berkuasa, telah membangun diwan—sistem pencatatan terpusat pertama dalam administrasi Islam. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menyebut kehadiran institusi ini sebagai pilar penting untuk menjaga keteraturan dan keadilan.

Kiranya penting menjadi catatan di sini bahwa sistem pencatatan terpusat diwan tidak sekadar tentang inovasi birokratis, melainkan sebuah ekspresi teologis: bahwa keadilan tidak bisa berdiri di atas niat yang tidak bisa diperiksa.

Namun, entah bagaimana, pesan peradaban itu sering kali belum sepenuhnya mewujud dalam praktik keseharian lembaga kita hari ini.

Tantangannya barangkali bukan pada minimnya niat baik, sebab semangat untuk berbagi selalu berlimpah. Hal yang sering kali luput adalah kesadaran bahwa membangun sistem pencatatan yang andal, memastikan keterlacakan aset, dan menstandardisasi data penerima bukanlah sekadar urusan teknis tambahan setelah agenda sosial selesai. Justru itu aspek terberat yang juga termasuk dalam rentetan ibadah sosial.

Mengakui Kerapuhan

Umar mematikan lilinnya bukan karena ada auditor yang mengawasi. Tidak ada kamera CCTV di ruang kerjanya. Yang ada adalah kesadaran bahwa setiap partikel dari amanah umat akan ditanya, dan ia tidak mau berdiri di hadapan pertanyaan itu tanpa jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan. 

Kita, dengan segala kemudahan teknologi yang tersedia, seharusnya tidak punya alasan untuk memiliki standar yang lebih buruk dari sistem pencatatan abad kedelapan yang bekerja di bawah temaram sebatang lilin.

Yang kita butuhkan adalah pemahaman bahwa transparansi dan keterlacakan data bukan inovasi dari luar yang kita pinjam—ia adalah terjemahan kontemporer dari nilai yang sudah lama kita miliki. Umar mematikan lilinnya karena ia punya sistem internal yang sangat ketat: sistem nilai yang membuat ia tidak perlu diawasi untuk berlaku benar.

Tapi nyatanya, kita sering kalah. Dan barangtentu kita harus jujur mengakui bahwa kekalahan itu bersumber dari internalisasi nilai di dalam dada kita yang tak sekuat Umar.

Di sinilah teknologi menemukan urgensinya. Ia bukan sekadar penanda zaman, melainkan mekanisme perlindungan diri (self-defense mechanism) yang merangkum kekuatan sekaligus pengakuan atas kerapuhan spiritual manusia modern. Ia adalah sebuah pengakuan paling tulus tentang lemahnya kontrol internal kita, yang akhirnya menuntut adanya sistem eksternal yang rigid demi menjaga marwah dalam mengelola amanah umat.

Membangun Ekuivalen Lilin Umar

Maka pertanyaannya bukan lagi soal seberapa tulus niat kita, tetapi seberapa serius kita membangun ekuivalen modern dari lilin yang dimatikan Umar itu? Sebuah ekuivalen yang berbentuk sistem data yang bisa ditelusuri, pencatatan yang transparan, dan standar pengelolaan yang tidak bersandar pada subjektivitas individu belaka.

Sebab jika tidak, kita tak ubahnya sedang merawat sebuah ironi untuk mengagumi masa lalu yang memahat standar akuntabilitas tertinggi, sembari membiarkan tata kelola amanah umat hari ini berjalan dalam ketidakpastian yang gamang.