Saya dikejutkan oleh sebuah postingan @terkinidotid yang direpost oleh Agus Noor di akun IG-nya dengan latar audio lagu “Orang-Orang Berbahaya” ciptaan Sri Krishna Encik. Postingan itu menautkan gambar berita bahwa ternyata, ada alasan suci dibalik kasus penyimpanan sejumlah harta kekayaan yang dilakukan oleh Jampidsus Febrie Adriansyah. Pengacaranya menyatakan bahwa rumah mewah di Sentul disewakan untuk yayasan dakwah, dan isi brankas digunakan untuk operasional santri.
Sebagai warga negara, saya ikut kesal dan geram. Sebagai seorang pengkaji islamic studies, saya juga heran. Saya termenung sejenak melihat postingan ini, memperhatikan menggulir komentarnya satu persatu. Hampir seluruh komentar tidak ada yang memberi rasa percaya, apalagi rasa iba. Keburukan yang dicuci dengan alasan yang paling tidak masuk akal ini, sungguh sangat mengherankan. Mengapa alasan instrumenagama begini masih dianggap layak dipakai untuk menutupi keburukan?
Seandainya-pun alasan yang dikemukakan tersebut benar adanya, saya berkeyakinan biarlah itu urusan Tuhan yang mengganjar dan menakar balasannya. Dalam tulisan ini saya tidak akan mencari benar salahnya sebuah alasan. Dalam tulisan ini saya akan mengoptimalkan peran sebagai pengkaji studi islam, dan menyadarkan elite kita -khususnya orang-orang yang suka bawa alasan agama, terkait bagaimana sebenarnya otoritas wacana keagamaan bekerja di ruang publik yang serba post ini.
Ketika simbol agama tidak lagi otomatis suci
Di dunia yang serba "post" baik post-modernisme maupun post-sekuler ini, wacana agama hadir dengan wajah baru. Wacana agama tidak dapat digunakan dengan format lama lagi, seperti halnya yang digunakan oleh elite birokrasi pemerintahan kita saat ini. Jangan mengira dengan menghadirkan alasan tersebut masyarakat lantas akan meredam isu kesalahan yang ada. Justru sebaliknya, isu ini makin digoreng di berbagai platform. Masyarakat semakin geram. Mengapa demikian? Karena wacana agama pada dewasa ini telah membawa bentuk format yang baru.
Dari religiusitas simbolik ke religiusitas reflektif
Format agama telah bergeser dari religiusitas simbolik menjadi religiusitas reflektif. Islam saat ini tidak digunakan untuk intrumental simbolik agar “Terlihat Islami”. Akan tetapi bergeser menjadi evaluasi epistemik yakni “Evaluasi nilai keislamaan secara kritis”. Jangan mengira post sekuler, yang membawa gelombang The Resurge of Religion/kebangkitan agama ini, lantas membuat anda para elite sekalian! Merasa yakin bahwa wacana agama adalah intrumental paling aman dan menjanjikan pembebasan, apalagi dengan intrumental paling sensitif yakni santri dan yayasan amal. justru tidak, para elit! Kebangkitan agama yang terjadi dewasa ini tidak lantas menjadikan agama sebagai simbol performatif untuk meredam dan menggerakkan massa.
The Resurge of Religion atau kebangkitan agama yang terjadi hingga saat ini, telah melewati dua arus gelombang. Benar adanya, bahwa kebangkitan agama pada gelombang pertama pasca reformasi tahun 2000-an, ditandai dengan wacana keislaman dalam bentuk religius simbolik performatif, seperti halnya gerakan jilbab, yayasan amal yang semakin merebak, sertifikasi halal, kajian-kajian dan majelis ta’lim yang semakin luas menyebar. Namun berbeda dengan gelombang kedua yang terjadi saat ini.
Gelombang kedua kebangkitan agama ditandai oleh memburuknya kualitas informasi di dunia digital yang kian tidak beraturan. Ruang digital yang semakin terintegrasi ke segala lini ini menuntut masyarakat memasuki fase kebangkitan agama dalam bentuk religius reflektif-epistemik.
Kebangkitan Agama Format Baru: Religius Reflektif Epistemik
Apa itu reflektif epistemik? Yakni wacana agama yang tidak dalam bentuk otoritas tunggal/satu narasi. Kebangkitan agama pada gelombang ini menuntut agama untuk membuktikan dirinya secara rasional dan transparan. Seperti halnya yang disampaikan oleh T.Tiocan dalam penelitiannya yang berjudul Post-Secular Credibility: How Digital Culture Redeems the Ethics of Religion, ia menyatakan bahwa:
“in post-secular societies, religious credibility no longer stems from doctrinal supremacy or institutional privilege, but from ethical verifiability—the visible coherence between belief and practice.”
Wacana keagaaman harus dapat diverifikasi di ruang publik secara plural dan kritis. Dan pada titik pemahaman inilah para koruptor, para pengkhianat bangsa gagal menggunakan jubah agama atas segala kesalahannya saat ini.
Detail yang dilontarkan pengacara Febrie Adriansyah terkait rumah yang digunakan untuk yayasan dakwah dan brankas harta kekayaan untuk operasional santri itu, semestinya di era gelombang kebangkitan agama pertama, alasan ini cukup untuk membungkam kritik. Tapi berbeda dengan gelombang wacana agama format baru kali ini- reflektif epistemik. Publik hari ini justru membalas dengan pertanyaan yang jauh lebih tajam, kalau benar untuk operasional yayasan, kenapa dananya tidak tercatat di laporan keuangan resmi? Kenapa disimpan tunai dan emas batangan di rumah pribadi, bukan di rekening yayasan? Sekali lagi, Ini bukan kritik yang lahir dari kebencian pada aksi sosial/agama, ini kritik yang lahir dari publik yang semakin berkembang dengan format kebangkitan wacana agama dalam bentuk religius epistemik yang menuntut transparansi dan rasional.
Elite yang salah baca sinyal
Kegagalan argumentasi keagamaan yang digunakan tersebut membuktikan bahwa elite kita salah baca sinyaL Mengira wacana agama adalah zona aman untuk dapat mengatur kognitif publik, sehingga menggiring publik ragu/takut untuk mengkritik. Kesalahan baca sinyal semacam ini tidak sekali dua kali terjadi mewarnai permasalahan-permasalahan elite kita. Sudah saatnya generasi lama ini memperbarui model mentalnya, mengikuti masyarakat baru yang sudah jauh lebih kritis ini.
Sebelum menjadikan agama sebagai jubah penutup kesalahan, para elite sepatutnya mengkaji dan menyadari, bahwa di dunia post-modern dan post-sekuler ini, menurut Asef Bayat masyarakat juga memasuki era post-Islamisme: publik makin agamis secara personal, tapi makin skeptis ketika agama dipakai sebagai legitimasi kekuasaan atau menutupi kejahatan struktural. "Islamists become aware of their discourse's anomalies and inadequacies as they attempt to institutionalize or imagine their rule.” Everton Diego Teles dalam artikelnya yang berjudul “Inclusivismo E Pluralismo Religioso” menyatakan bahwa sudah sepatutnya dunia yang menuntut inklusif dan plural ini, mengaruskan individu religius untuk mengakui bahwa instrumen agama tidak memiliki monopoli atas kebenaran.
Dalam kerangka ini, kesalahan elite membaca sinyal zaman dan kecenderungan mereka mereduksi nilai-nilai agama demi menutupi kasus-kasus yang menjeratnya, adalah bukti bahwa elit kita sering salah sinyal dan tidak menyadarinya.
Betapa lelahnya kita sebagai bangsa, hidup berdampingan dengan elite yang mentalnya selalu menggunakan instrumen agama untuk hal-hal yang jelas salahnya. Toh jika benar untuk yayasan dakwah dan oprasional santri, semakin malu harusnya masih di simpan-simpan segala.
Pantas bagi kita mengakhiri kelelahan ini dengan menyanyikan lagu yang dipilih Agus Noor dalam postingan IG-nya, “Orang-Orang Berbahaya” ciptaan Sri Krishna Encik:
“Kita ini hidup di zaman yang berbahaya, selalu cemas dengan bayangan ketakutannya, menanggung nasib buruk sendirian, berharap bertemu kawan seperjuangan, dijauhkan dari berbagai macam ancaman berbahaya, orang-orang berbahaya, menyembunyikan wajah busuknya”



